Suku Bunga The Fed Naik Pertama Kali Sejak 2023, Warsh Tegaskan Risiko Inflasi Masih Tinggi: Bagaimana Investor Harus Bersiap? Weekly Newsletter 18 September 2026
Key Takeaways
1. The Fed resmi menaikkan suku bunga pertama sejak 2023: FOMC menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%–4,00% secara bulat, dengan Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan risiko inflasi yang masih tinggi sebagai alasan utama di balik keputusan ini.
2. The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga lagi, target inflasi mundur ke 2029: Proyeksi median suku bunga akhir 2026 naik ke 4,1% (dari 3,8%), dengan 16 pejabat The Fed kini mendukung setidaknya satu kenaikan tambahan tahun ini jauh lebih banyak dari 6 pejabat pada Juni.
3. Fundamental Indonesia relatif tangguh, tapi investor tetap perlu selektif: Inflasi domestik yang masih dalam sasaran, defisit anggaran terjaga, dan yield SBN yang stabil memberi ruang redam bagi Indonesia, namun potensi kenaikan suku bunga lanjutan The Fed dan rencana DPR mengkaji ulang batas defisit APBN tetap perlu diwaspadai investor.
Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00% dalam keputusan yang diambil secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Ini adalah kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023, menandai titik balik setelah lebih dari tiga tahun kebijakan cenderung akomodatif, dan dilakukan di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang kembali mendorong ekspektasi inflasi global naik.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa risiko inflasi masih tinggi dan menjadi alasan utama di balik keputusan ini: perkembangan inflasi selama musim panas belum menunjukkan perbaikan berarti, sementara inflasi inti pada Agustus meningkat lebih cepat dari perkiraan. Bank sentral AS ini pun tidak berhenti di satu kali kenaikan proyeksi terbaru mengindikasikan kemungkinan kenaikan tambahan hingga akhir tahun, dengan target inflasi 2% yang bahkan mundur satu tahun menjadi 2029. Sikap tegas ini diambil meski mendapat tekanan politik dari Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menyerukan penurunan suku bunga hingga 1% atau lebih rendah.
Bagi investor di Indonesia, sikap The Fed yang semakin hawkish ini punya implikasi langsung mulai dari tekanan terhadap imbal hasil (yield) obligasi, ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam menentukan kebijakan, hingga strategi alokasi portofolio yang perlu disesuaikan. Artikel ini mengupas alasan di balik keputusan The Fed, seberapa hawkish arah kebijakannya ke depan, dampaknya bagi Indonesia, serta bagaimana investor harus bersiap dilengkapi rangkuman singkat berita ekonomi domestik lain sebagai konteks pelengkap.
Kenapa The Fed Menaikkan Suku Bunga untuk Pertama Kalinya Sejak Juli 2023?
Detail Keputusan: Naik 25 Bps ke 3,75%–4,00%
FOMC memutuskan secara bulat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00%. Ini merupakan kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun, sekaligus menandai pembalikan arah setelah periode kebijakan yang cenderung akomodatif.
Alasan di Balik Keputusan Menurut Ketua The Fed Kevin Warsh
Warsh menegaskan bahwa The Fed berupaya mengurangi kebijakan akomodatif agar kondisi keuangan dan kredit lebih sejalan dengan tujuan stabilitas harga. Menurutnya, perkembangan inflasi selama musim panas belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Inflasi inti pada Agustus bahkan tercatat meningkat lebih cepat dari perkiraan, menimbulkan kekhawatiran bahwa tekanan harga semakin meluas termasuk akibat kebijakan tarif dan dampak konflik Iran terhadap harga energi.
Konteks Global: Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Inflasi di AS
Di balik keputusan ini ada gambaran inflasi global yang kembali memanas. Harga minyak Brent sempat mencapai US$108 per barel dan WTI US$102,7 per barel akibat ketidakpastian konflik Timur Tengah. Di AS sendiri, indeks harga produsen (PPI) naik 0,4% secara bulanan pada Agustus dan 5,4% secara tahunan kenaikan tertinggi sejak Mei yang turut memperkuat spekulasi The Fed akan menaikkan suku bunga.
Seberapa Hawkish Proyeksi The Fed ke Depan?
Median Suku Bunga Diproyeksikan 4,1% pada Akhir 2026
Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan median suku bunga pada akhir 2026 berada di 4,1%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,8%. Sebanyak 16 pejabat The Fed kini memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan tambahan tahun ini, jauh lebih banyak dibandingkan hanya enam pejabat pada Juni. Untuk 2027, median proyeksi memang tidak menunjukkan kenaikan tambahan, meski delapan pejabat masih mendukung kenaikan seperempat poin pada akhir 2027.
Target Inflasi 2% Ditunda hingga 2029
Salah satu sinyal paling hawkish adalah keputusan The Fed menunda perkiraan tercapainya target inflasi 2% selama satu tahun proyeksi median kini memperkirakan target tersebut baru tercapai pada 2029. Di sisi lain, The Fed menilai pertumbuhan produktivitas dan investasi modal AS tetap kuat, sementara tingkat pengangguran relatif stabil, sehingga ruang untuk terus mengetatkan kebijakan dinilai masih ada.
Tekanan Politik dari Presiden Trump
Keputusan menaikkan suku bunga ini diambil di tengah tekanan politik, setelah Presiden Trump sebelumnya menyerukan agar suku bunga diturunkan hingga 1% atau lebih rendah. Warsh tidak memberikan komentar mengenai komunikasi langsung dengan Presiden, namun tetap menekankan bahwa perekonomian Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang cukup untuk menopang kebijakan yang lebih ketat.
Bagaimana Reaksi Pasar Keuangan Global?
Yield US Treasury Melonjak
Pasar keuangan merespons keputusan ini dengan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS. Imbal hasil Treasury tenor dua tahun naik menjadi sekitar 4,73%, sementara imbal hasil Treasury tenor 10 tahun bergerak di atas 5% mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat dalam waktu lebih lama.
Wall Street Melemah
Indeks di Wall Street berlanjut melemah pada perdagangan Selasa (16/9), dengan Dow Jones melemah cukup signifikan setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan Warsh kembali menekankan bahwa tekanan inflasi masih berlanjut.
Wall Street Rebound Tajam pada 17 September
Sehari setelah melemah, indeks di Wall Street justru berbalik menguat pada perdagangan Kamis (17/9) dan mencatatkan kinerja harian terbaik dalam lebih dari sebulan. Penguatan ini didorong oleh penurunan harga minyak dan kenaikan saham-saham teknologi, seiring turunnya yield US-Treasury dari level puncaknya menunjukkan sentimen pasar mulai mereda setelah kejutan awal keputusan The Fed.
Harga Minyak Sempat Terkoreksi Usai Sinyal Pasokan Arab Saudi
Di tengah gejolak ini, harga minyak justru sempat terkoreksi turun pada 16 September WTI melemah 3,2% ke level US$102 per barel dan Brent melemah 2,7% ke US$105 per barel setelah Pemerintahan Trump berupaya meyakinkan pasar bahwa pipa minyak Timur-Barat milik Arab Saudi akan segera kembali beroperasi, meredakan sedikit kekhawatiran soal pasokan.
Koreksi berlanjut pada 17 September: WTI kembali melemah ke US$101 per barel dan Brent ke US$104 per barel, setelah Arab Saudi benar-benar mengalihkan sebagian ekspor minyak mentahnya melalui Selat Hormuz untuk mengimbangi penutupan jalur pipa utama. Langkah konkret ini semakin meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global, sekaligus menjadi salah satu faktor pendorong rebound Wall Street.
Klaim Pengangguran AS Turun ke Level Terendah dalam Puluhan Tahun
Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (17/9) menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 10.000 menjadi 196.000 pada pekan yang berakhir 12 September salah satu level terendah sejak 1969, meski periode ini turut dipengaruhi musim libur Labor Day. Klaim berkelanjutan juga turun ke 1,73 juta, level terendah sejak 2024. Data ini memperkuat gambaran pasar tenaga kerja AS dengan tingkat perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang sama-sama rendah, selaras dengan pandangan The Fed bahwa ketenagakerjaan AS relatif stabil kondisi yang turut memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap hawkishnya.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Inflasi Domestik Naik ke 3,19%, Ruang BI Melonggarkan Kebijakan Menyempit
Indonesia turut menghadapi risiko melalui imported inflation, tekanan terhadap rupiah, dan meningkatnya ekspektasi inflasi. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19%, naik dari 2,88% pada Juli, sehingga berpotensi mempersempit ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Kenapa BI Tidak Harus Otomatis Mengikuti Langkah The Fed
Meski demikian, BI tidak serta-merta harus mengikuti langkah bank sentral negara maju. Inflasi Indonesia masih berada dalam sasaran 1,5%–3,5%, dengan rata-rata sekitar 2,7%. Defisit anggaran Indonesia juga tetap di bawah 3% terhadap PDB, jauh lebih rendah dibandingkan AS yang mencapai 5,3%. Fundamental fiskal dan inflasi yang lebih terkendali inilah yang menjadi faktor pembatas dampak gelombang hawkish global terhadap pasar Indonesia.
Yield SBN 10 Tahun Relatif Terjaga di Sekitar 7,1%
Tekanan global memang terlihat pada pasar surat utang, melalui aksi jual US Treasury yang turut menekan sebagian tenor Surat Utang Negara (SUN) domestik. Namun, yield SBN tenor 10 tahun relatif terjaga di sekitar 7,1%, menunjukkan pasar obligasi Indonesia belum terguncang signifikan oleh gelombang kenaikan suku bunga global.
IHSG Berpotensi Menguat ke Level 6.500–6.550
Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400, dengan indikator Stochastic RSI membentuk pola Golden Cross di area oversold. Kondisi ini membuka peluang IHSG bergerak menguat menguji level 6.500–6.550 pada perdagangan Jumat (18/9), dengan koreksi harga minyak yang sedang berlangsung turut menjadi salah satu faktor pendorong sentimen positif.
DPR Kaji Kenaikan Batas Defisit APBN, Ini Risikonya
Di tengah disiplin fiskal yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan pasar Indonesia, DPR tengah mengkaji revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang dapat menaikkan batas maksimal defisit APBN dari 3% terhadap PDB. Kenaikan batas ini berpotensi memberi fleksibilitas pembiayaan program pemerintah, namun juga berisiko meningkatkan utang dan beban bunga, menekan penyerapan SBN dan obligasi korporasi, serta memicu kekhawatiran investor dan lembaga pemeringkat terhadap disiplin fiskal Indonesia yang pada akhirnya dapat berdampak pada credit rating, potensi capital outflow, dan pelemahan rupiah.
Top Reksa Dana of The Week

Bagaimana Strategi Investasi yang Tepat di Tengah Kondisi Ini?
Dengan The Fed yang sudah benar-benar menaikkan suku bunga dan membuka peluang kenaikan lanjutan hingga akhir tahun, sementara inflasi domestik juga mulai naik, pendekatan investasi yang selektif sesuai profil risiko menjadi semakin penting.
Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang
BI mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%, meski inflasi domestik naik ke 3,19% dan masih berada dalam rentang sasaran BI. Kondisi ini membuat reksa dana pasar uang tetap diuntungkan karena bunga deposito masih berada di level kompetitif. Ditambah kenaikan suku bunga The Fed yang sudah terjadi dan potensi kenaikan lanjutan, risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi pada reksa dana pasar uang (RDPU) menjadi keunggulan utama bagi investor yang mengutamakan keamanan modal di tengah ketidakpastian global saat ini. Beberapa reksa dana pasar uang yang bisa dipertimbangkan:
- Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,37%*
- I-Money dengan return 1 tahun terakhir: 5,15%*
- Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,32%*
Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran
Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) tetap berada di level yang menarik, didukung sikap BI yang mempertahankan suku bunga meski inflasi domestik mulai naik, sementara sikap hawkish The Fed yang kini sudah terealisasi lewat kenaikan 25 bps dan proyeksi kenaikan lanjutan turut menjaga yield global tetap tinggi. Kombinasi ini membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil selagi level tersebut masih menarik, sebelum berpotensi turun jika arah kebijakan suku bunga berubah di kemudian hari.
- Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 6,16%*
- Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,58%*
- STAR Stable Income Fund Kelas Utama dengan return 1 tahun terakhir: 5,22%*
Bagi investor yang siap menerima risiko sedikit lebih tinggi demi potensi imbal hasil lebih besar, reksa dana campuran berbasis sukuk korporasi seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund juga layak dipertimbangkan, dengan return 7,4%* dalam satu tahun terakhir dan volatilitas yang relatif masih terjaga dibanding reksa dana campuran berbasis ekuitas murni cocok bagi investor yang ingin memanfaatkan fundamental domestik yang relatif lebih terjaga tanpa mengambil risiko sebesar reksa dana saham.
*NAB 17 September 2026
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.
Frequently Asked Question (FAQ)
Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)
Mulai Persiapkan Merdeka Finansial Bersama SayaKaya
Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.
Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!
https://sayakaya.go.link/download-disini
Lihat Blog Lainnya
Kenapa NAB Reksa Dana Bisa Naik dan Turun? Ini Faktor Ekonominya
Pernah lihat NAB reksa dana naik hari ini, lalu turun lagi beberapa hari kemudian? Hal ini wajar karena NAB mencerminkan nilai aset yang ada di dalam portofolio reksa dana. Ketika harga aset di dalamnya berubah, NAB juga bisa ikut berubah.
Baca Selengkapnya
Apa Itu Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SSUEF)? Kenalin Reksa Dana Saham yang Berdampak untuk SDGs
Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SSUEF) adalah reksa dana saham yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management, dengan PT Bank HSBC Indonesia sebagai bank kustodian. SSUEF berbentuk Kontrak Investasi Kolektif berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, resmi efektif sejak 30 September 2021 (No. S-1200/PM.21/2021), dan mulai diluncurkan kepada publik pada 27 Oktober 2021. Reksa dana ini menggunakan denominasi Rupiah (IDR) dengan kode ISIN IDN000469301.
Baca Selengkapnya
Kenapa Reksa Dana Bisa Cocok dengan Profil Risiko yang Berbeda-Beda?
Setiap orang memiliki karakter dan toleransi risiko yang berbeda saat berinvestasi. Ada yang lebih nyaman dengan investasi yang relatif stabil, ada yang siap menghadapi naik-turunnya nilai investasi, dan ada juga yang berani mengambil risiko lebih tinggi untuk mengejar potensi imbal hasil yang lebih besar.
Baca Selengkapnya
