Kenapa US Treasury Masih Melanjutkan Tren Kenaikan Yield Pasca The Fed Menaikkan Suku Bunga & Buyback Departemen Keuangan AS? (Weekly Newsletter 1 Oktober 2026)

2 Oktober 2026 Ditulis oleh Hardy Tandoko
Featured

Key Takeaways

1. The Fed belum sepenuhnya mengakhiri siklus pengetatannya. Meski probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober turun ke 38,2% setelah inflasi inti melandai, pasar masih mengantisipasi satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun, didukung data pasar tenaga kerja AS yang diperkirakan tetap solid.

2. Tren kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS berisiko menekan Rupiah. Rencana buyback obligasi Departemen Keuangan AS yang masih di bawah ekspektasi pasar turut menjaga yield tetap tinggi, sementara harga minyak yang volatil dapat memicu potensi capital outflow dari negara berkembang.

3. Ekonomi domestik Indonesia menunjukkan sinyal yang beragam. RUU APBN 2027 disahkan dengan target pertumbuhan 6% dan neraca dagang mencatat surplus yang melebar, namun inflasi naik ke 3,28% YoY dan kepercayaan industri melemah tipis menunjukkan perlunya kewaspadaan di tengah optimisme fiskal.

Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga pada September 2026. Namun setelah kenaikan tersebut, pelaku pasar justru mengurangi ekspektasi kenaikan lanjutan pada Oktober, menyusul data inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan meski satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun masih diantisipasi. Di tengah itu, tren kenaikan yield US Treasury masih berlangsung hingga saat ini, salah satunya dipicu oleh langkah Departemen Keuangan AS memperbesar rencana buyback obligasi tenor 10–20 tahun sejak 10 September 2026, yang mencerminkan pasar yang tetap waspada terhadap arah kebijakan moneter ke depan.

Sentimen ini turut dipengaruhi data ekonomi AS yang beragam: pasar tenaga kerja diperkirakan tetap solid, namun keyakinan konsumen justru anjlok ke level terendah sejak 2014. Di sisi lain, harga minyak bergerak volatil sempat menguat ke USD 108 per barrel sebelum turun ke USD 105 per barrel usai Arab Saudi meningkatkan operasional jalur pipa vitalnya.

Di dalam negeri, DPR resmi mengesahkan RUU APBN 2027 dengan target pertumbuhan 6%, di tengah pemangkasan subsidi energi dan sedikit pelemahan kepercayaan industri. Artikel ini merangkum seluruh perkembangan tersebut secara ringkas.

Bagaimana Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed Setelah September?

Pasar Kurangi Ekspektasi Kenaikan Oktober, Tapi Masih Antisipasi Satu Kali Lagi

Setelah The Fed menaikkan suku bunga pada September, pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan pada pertemuan Oktober karena inflasi inti tercatat lebih rendah dari perkiraan. Saat ini, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC Oktober berada di level 38,2%, sementara probabilitas suku bunga ditahan (hold) jauh lebih tinggi di 61,8%. Meski begitu, pasar masih memperkirakan satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun mengindikasikan The Fed belum sepenuhnya mengakhiri siklus pengetatannya.

Tren Kenaikan Yield US Treasury Masih Berlangsung

Di tengah ketidakpastian arah suku bunga, tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) masih berlanjut hingga saat ini. Kondisi ini mencerminkan investor yang tetap mengantisipasi risiko inflasi dan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa bulan ke depan. Meningkatnya indeks dolar AS akibat tingginya harga minyak yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut dan kenaikan yield US Treasury, menimbulkan potensi terjadinya capital outflow dari negara berkembang sehingga mendorong pelemahan Rupiah.

Yield Obligasi AS Naik Usai Buyback Treasury Diperbesar Jadi US$6 Miliar

Yield obligasi AS kembali naik setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan rencana buyback obligasi tenor 10–20 tahun menjadi hingga US2 miliar kebijakan ini mulai berjalan sejak 10 September 2026. Meski demikian, besaran buyback tersebut masih di bawah ekspektasi pasar yang menginginkan nilai minimal US$10 miliar, sehingga belum mampu meredam tekanan kenaikan yield secara signifikan.

Bagaimana Kondisi Ekonomi AS yang Mempengaruhi Keputusan The Fed?

Pasar Tenaga Kerja Diperkirakan Tetap Solid, Tapi Lowongan Kerja Menurun

Laporan ketenagakerjaan BLS untuk September diperkirakan mencatat penambahan sekitar 90.000 lapangan kerja non-pertanian, dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,1% level terendah dalam setahun terakhir. Namun, data Agustus menunjukkan lowongan kerja turun ke 7,1 juta dari 7,3 juta pada Juli, level terendah dalam lima bulan, meski PHK juga turun ke level terendah sejak Maret 2025. Kondisi ini memberi The Fed ruang untuk lebih memusatkan perhatian pada perkembangan inflasi dalam menentukan arah kebijakan.

Keyakinan Konsumen AS Anjlok ke Level Terendah Sejak 2014

Indeks keyakinan konsumen Conference Board turun 6,7 poin menjadi 81,9 pada September level terendah sejak 2014 dan di bawah seluruh perkiraan ekonom. Penurunan ini didorong kekhawatiran terhadap biaya hidup, terutama harga bensin yang telah melampaui US$4 per galon. Semakin banyak konsumen juga memperkirakan suku bunga akan terus meningkat, mencerminkan sentimen yang semakin berhati-hati terhadap prospek ekonomi.

Belanja Konsumen dan PDB AS Tumbuh Lebih Kuat dari Perkiraan

Belanja konsumen AS naik 0,6% pada Agustus, laju tercepat dalam lebih dari setahun, didukung pembelian barang bernilai besar seperti kendaraan. Data revisi juga menunjukkan PDB kuartal II tumbuh 2,2% secara tahunan, naik signifikan dari estimasi awal 1,5%. Meski demikian, inflasi inti PCE tercatat 3% dan inflasi keseluruhan 3,4% keduanya masih di atas target The Fed sebesar 2%, sementara tingkat tabungan turun ke 4,1%, terendah sejak 2022.

Bagaimana Pergerakan Harga Minyak Terkini?

Brent Turun dari Level Tertinggi Usai Arab Saudi Tingkatkan Operasional Pipa

Harga minyak mentah turun dari level tertinggi hariannya pada 28 September, setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi meningkatkan operasional jalur pipa vital Timur-Barat usai perbaikan. Harga minyak Brent ditutup di level USD 105 per barrel pada 29 September, setelah sebelumnya sempat menguat hingga USD 108 per barrel.

Apa Perkembangan Penting Ekonomi Domestik Indonesia?

DPR Sahkan RUU APBN 2027, Target Pertumbuhan 6%

DPR RI resmi mengesahkan RUU APBN 2027 untuk dilanjutkan ke tahap pengesahan menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna pada Selasa (29/9/2026). Pemerintah dan DPR menyepakati target inflasi 2027 di sekitar 2,5%, dengan target pertumbuhan ekonomi 6% yang akan didukung perbaikan iklim investasi serta penguatan peran sektor swasta, mengingat target tersebut dinilai tidak dapat hanya mengandalkan kapasitas APBN semata.

Indeks Kepercayaan Industri Melemah Tipis, Masih di Zona Ekspansi

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia turun menjadi 51,93 pada September dari 53,10 pada Agustus, namun masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi. Kemenperin menyebut perlambatan ini dipengaruhi dampak super El Nino serta tingginya harga BBM global yang menekan biaya produksi. Dari 23 subsektor yang dianalisis, 15 subsektor masih mencatat ekspansi, dengan indeks pesanan baru yang justru meningkat menunjukkan permintaan terhadap produk industri masih relatif terjaga.

Inflasi Indonesia Naik ke 3,28% YoY pada September 2026

Inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year) pada September 2026, meningkat dari 3,19% YoY pada Agustus. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,30%, sementara inflasi inti berada di level 2,84% YoY. Kenaikan ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,37% YoY.

Neraca Dagang RI Surplus US$3,55 Miliar pada Agustus 2026

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak signifikan dari surplus US$120 juta pada Juli. Surplus ini ditopang oleh ekspor senilai US$26,61 miliar yang tumbuh 6,72% YoY, sementara impor mencapai US$23,06 miliar dengan pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 19,09% YoY.

Top Reksa Dana of The Month

(02 Okt) - TOP RD of The Week-01.jpg

(02 Okt) - TOP RD of The Week-02.jpg

Bagaimana Strategi Investasi yang Tepat di Tengah Kondisi Ini?

Dengan BI yang memilih menahan suku bunga di tengah tren hawkish The Fed dan bank sentral global, sementara peluang kenaikan BI Rate di kuartal IV masih terbuka, pendekatan investasi yang selektif sesuai profil risiko menjadi semakin penting.

Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang

BI mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%, meski inflasi domestik naik ke 3,28% dan masih berada dalam rentang sasaran BI. Kondisi ini membuat reksa dana pasar uang tetap diuntungkan karena bunga deposito masih berada di level kompetitif. Ditambah kenaikan suku bunga The Fed yang sudah terjadi dan potensi kenaikan lanjutan, risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi pada reksa dana pasar uang (RDPU) menjadi keunggulan utama bagi investor yang mengutamakan keamanan modal di tengah ketidakpastian global saat ini. Beberapa reksa dana pasar uang yang bisa dipertimbangkan:

  1. Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,37%*
  2. I-Money dengan return 1 tahun terakhir: 5,15%*
  3. Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,3%*

Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) tetap berada di level yang menarik, didukung sikap BI yang mempertahankan suku bunga meski inflasi domestik mulai naik, sementara sikap hawkish The Fed yang kini sudah terealisasi lewat kenaikan 25 bps dan proyeksi kenaikan lanjutan turut menjaga yield global tetap tinggi. Kombinasi ini membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil selagi level tersebut masih menarik, sebelum berpotensi turun jika arah kebijakan suku bunga berubah di kemudian hari.

  1. Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,49%*
  2. Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 5,45%*
  3. STAR Stable Income Fund Kelas Utama dengan return 1 tahun terakhir: 4,85%*

Bagi investor yang siap menerima risiko sedikit lebih tinggi demi potensi imbal hasil lebih besar, reksa dana campuran berbasis sukuk korporasi seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund juga layak dipertimbangkan, dengan return 6,89%* dalam satu tahun terakhir dan volatilitas yang relatif masih terjaga dibanding reksa dana campuran berbasis ekuitas murni cocok bagi investor yang ingin memanfaatkan fundamental domestik yang relatif lebih terjaga tanpa mengambil risiko sebesar reksa dana saham.

*NAB 1 Oktober 2026

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.

Frequently Asked Question

1. Kenapa yield US Treasury masih naik meski The Fed sudah menaikkan suku bunga pada September 2026?
Investor masih mengantisipasi risiko inflasi dan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu, rencana buyback obligasi tenor 10–20 tahun oleh Departemen Keuangan AS yang berjalan sejak 10 September 2026 masih di bawah ekspektasi pasar yang menginginkan nilai minimal US$10 miliar, sehingga belum mampu meredam tekanan kenaikan yield secara signifikan.
2. Apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober?
Peluangnya mengecil. Setelah inflasi inti tercatat lebih rendah dari perkiraan, probabilitas kenaikan suku bunga pada FOMC Oktober turun ke 38,2%, sementara probabilitas suku bunga ditahan mencapai 61,8%. Meski begitu, pasar masih memperkirakan satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun, sehingga siklus pengetatan The Fed belum sepenuhnya berakhir.
3. Bagaimana kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS bisa berdampak pada Rupiah?
Tingginya harga minyak memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut dan mendorong indeks dolar AS menguat. Bersamaan dengan kenaikan yield US Treasury, kondisi ini berpotensi memicu capital outflow dari negara berkembang, yang pada akhirnya dapat mendorong pelemahan Rupiah.
4. Seperti apa kondisi ekonomi AS terkini yang memengaruhi keputusan The Fed?
Datanya beragam. Pasar tenaga kerja diperkirakan tetap solid dengan tingkat pengangguran 4,1%, belanja konsumen naik 0,6% pada Agustus, dan PDB kuartal II direvisi naik menjadi 2,2%. Namun, keyakinan konsumen anjlok ke 81,9, level terendah sejak 2014, sementara inflasi inti PCE 3% dan inflasi keseluruhan 3,4% masih di atas target The Fed sebesar 2%.
5. Apa saja perkembangan penting ekonomi domestik Indonesia saat ini?
DPR mengesahkan RUU APBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 6% dan target inflasi sekitar 2,5%. Neraca dagang mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, dan Indeks Kepercayaan Industri masih di zona ekspansi meski turun ke 51,93. Di sisi lain, inflasi naik ke 3,28% YoY pada September 2026, sehingga tetap perlu diwaspadai.
6. Reksa dana apa yang cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif di tengah kondisi ini?
Reksa dana pasar uang tetap diuntungkan karena BI Rate bertahan di 5,75% dan bunga deposito masih kompetitif, dengan risiko relatif rendah dan likuiditas tinggi. Beberapa pilihannya adalah Pinnacle Money Market Fund (5,37%), I-Money (5,15%), dan Sucorinvest Money Market Fund (4,3%), berdasarkan return 1 tahun terakhir per NAB 1 Oktober 2026.
7. Bagaimana dengan investor berprofil risiko moderat?
Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) masih menarik, sehingga reksa dana pendapatan tetap bisa dimanfaatkan untuk mengunci imbal hasil, misalnya Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund (5,49%), Danamas Stabil (5,45%), dan STAR Stable Income Fund Kelas Utama (4,85%). Bagi yang siap menerima risiko sedikit lebih tinggi, Sucorinvest Sharia Balanced Fund mencatat return 6,89% dalam satu tahun terakhir, per NAB 1 Oktober 2026.

Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)

Mulai Persiapkan Merdeka Finansial Bersama SayaKaya

Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.

Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!

https://sayakaya.go.link/download-disini

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Education 1 Oktober 2026

Lima Langkah yang Harus Dilakukan untuk Berinvestasi dengan Aman

Investasi bisa membantu mengembangkan uang dan mencapai tujuan keuangan. Tapi setiap investasi punya risiko, jadi pahami dulu produknya dan pastikan sesuai kondisi keuanganmu.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Promo 1 Oktober 2026

Investasi Jadi Lebih Menyenangkan Bareng STAR AM

Awal bulan udah pada gajian belum?

Baca Selengkapnya
thumbnail
Kulik Reksa Dana 30 September 2026

Kenapa Syailendra Pendapatan Tetap Premium Kelas A Konsisten Ungguli Benchmark Hampir 2x Lipat dalam 5 Tahun Terakhir?

Reksa Dana Syailendra Pendapatan Tetap Premium Kelas A (MSPTP-A) adalah reksa dana pendapatan tetap yang dikelola PT Syailendra Capital sejak Maret 2017. Sekitar 96% dananya ditempatkan di obligasi, sehingga pertumbuhannya cenderung lebih tenang dibanding reksa dana saham.

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.