Kesepakatan Hormuz Redakan Harga Minyak, Namun Keyakinan Konsumen AS Melemah dan CAD Indonesia Melebar, Apa Dampaknya bagi Investor? (Weekly Newsletter 28 Agustus 2026)

28 Agustus 2026 Ditulis oleh Hardy Tandoko
Featured

Key Takeaways:

  1. Harga minyak bergerak dua arah dalam sepekan yang sama. Kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz sempat mendorong Brent turun tiga hari beruntun, namun eskalasi perang Rusia-Ukraina langsung membalikkan tren dan mendorong harga kembali ke atas $89 per barel pengingat bahwa satu sentimen positif belum tentu bertahan lama di tengah geopolitik yang masih rapuh.
  2. CAD Indonesia melebar jadi sinyal yang perlu diwaspadai investor. Defisit transaksi berjalan yang melonjak ke US$12,49 miliar atau 3,3% dari PDB mempersempit ruang Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran moneter secara agresif, terutama karena pelebaran ini didorong anjloknya surplus neraca barang di tengah perlambatan ekonomi global.
  3. Di tengah gejolak jangka pendek, fondasi jangka panjang RI tetap dibangun. Inflasi domestik yang terkendali di 2,88% jauh lebih rendah dibanding banyak negara Asia lain berjalan beriringan dengan kepastian kepemimpinan lewat terpilihnya Gubernur BI definitif serta target DPR merampungkan RUU Perampasan Aset pada Desember 2026, menunjukkan pemerintah tetap fokus pada agenda struktural meski tekanan pasar jangka pendek meningkat.

Pekan terakhir Agustus 2026 diwarnai perkembangan yang saling bertolak belakang di berbagai penjuru dunia. Iran dan Oman sempat mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah perairan dan pendapatan dari Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia turun tiga hari berturut-turut, namun harga Brent kembali pulih ke atas $89 per barel setelah eskalasi perang Rusia-Ukraina mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah ke Eropa Timur. Di saat yang sama, keyakinan konsumen Amerika Serikat merosot ke level terendah sejak awal tahun, sementara Wall Street justru menguat berkat kinerja kuartalan Nvidia yang membangkitkan kembali antusiasme sektor kecerdasan buatan, di tengah penantian investor terhadap pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.

Di dalam negeri, dua perkembangan kelembagaan penting turut mewarnai pekan ini. Komisi XI DPR resmi menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031, sementara DPR juga menargetkan RUU Perampasan Aset rampung disahkan paling lambat 15 Desember 2026. Di sisi ekonomi, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar signifikan pada kuartal II-2026 menjadi US$12,49 miliar, sebuah perkembangan yang patut diwaspadai investor karena berpotensi mempersempit ruang gerak Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran moneter secara agresif ke depan.

Artikel ini merangkum seluruh perkembangan global dan domestik tersebut secara lengkap, serta bagaimana dampaknya bagi investor di Indonesia.

Bagaimana Kondisi Ekonomi Global Saat Ini?

Keyakinan Konsumen AS Turun ke Level Terendah Sejak Awal Tahun

Indeks keyakinan konsumen The Conference Board turun 0,8 poin menjadi 89,4 pada Agustus 2026, level terendah sejak awal tahun. Penurunan terutama terlihat pada ekspektasi enam bulan ke depan yang mencapai titik terendah sejak Januari, meski indikator kondisi saat ini justru naik ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Pelemahan ini dipicu tingginya harga bensin yang rata-rata berada di atas $4 per galon akibat memanasnya kembali konflik AS-Iran serta perlambatan perekrutan tenaga kerja. Penjualan eceran AS pada Juli bahkan mencatat penurunan terdalam dalam lebih dari satu tahun.

Meski persepsi konsumen terhadap kondisi pasar tenaga kerja saat ini membaik, dengan selisih antara responden yang menilai lapangan kerja melimpah versus sulit mencapai level terlebar sepanjang tahun, konsumen tetap pesimistis terhadap prospek pekerjaan dan pendapatan dalam enam bulan mendatang. Sentimen konsumen Universitas Michigan juga ikut menurun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Inflasi Asia Bergerak Tidak Seragam, Indonesia Relatif Terkendali

Kenaikan harga minyak mentah dunia lebih dari 50% sepanjang tahun akibat konflik Timur Tengah memicu laju inflasi yang tidak seragam di kawasan Asia. Pakistan mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,2%, disusul Filipina 6,2%, sementara China hanya 0,5%. Di Asia Tenggara, inflasi relatif terkendali: Indonesia 2,88%, Thailand 1,95%, dan Malaysia 1,8%, sedangkan India dan Vietnam sama-sama tercatat 4,45%. Korea Selatan mencatat inflasi 2,8%, melampaui target bank sentralnya sebesar 2%.

Perbedaan tekanan inflasi ini turut memicu respons kebijakan moneter yang beragam. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% karena inflasi masih berada dalam sasaran dan suku bunga riil tetap positif, sementara Bank of Thailand diperkirakan menahan suku bunga di 1%, bank sentral Filipina diproyeksikan menaikkan suku bunga menjadi 5%, dan Bank of Korea diperkirakan menaikkan 25 basis poin menjadi 3%.

Inflasi PCE AS Masih Tinggi, The Fed Tetap Berhati-Hati Jelang Jackson Hole

Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti AS naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan pada Juli 2026, sementara PCE secara keseluruhan meningkat 3,7% masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Inflasi jasa di luar energi dan perumahan turut naik 0,3%, terutama akibat lonjakan biaya jasa pengelolaan portofolio dan konsultasi investasi sebesar 5,6%. Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih perlu berhati-hati, dengan sejumlah pejabat ingin melihat lebih banyak bukti bahwa tekanan inflasi akibat perang Iran mulai mereda sebelum mengambil keputusan. Pelaku pasar kini menantikan pandangan Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Jackson Hole.

Dari sisi konsumsi, pengeluaran rumah tangga riil tidak berubah pada Juli, dengan belanja barang inti turun 0,8% meski pengeluaran jasa naik 0,3%. Meski demikian, daya beli konsumen mulai membaik pendapatan yang dapat dibelanjakan setelah disesuaikan inflasi naik 0,4% dan tingkat tabungan meningkat menjadi 3%. Namun kenaikan harga bensin dan berakhirnya manfaat pengembalian pajak tetap menjadi risiko bagi konsumsi ke depan.

Wall Street Menguat Didorong Kinerja Nvidia, Investor Nantikan Jackson Hole

Wall Street ditutup menguat pada Kamis (27/8), dipicu kinerja kuartalan Nvidia yang kembali membangkitkan antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan. Di sisi lain, pelaku pasar masih menantikan pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk lebih jelas mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Iran dan Oman Sepakati Pembagian Selat Hormuz, Harga Minyak Turun

Setelah negosiasi sekitar satu bulan, Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah perairan serta pendapatan dari Selat Hormuz. Namun, jalur pelayaran strategis ini belum akan dibuka kembali apabila AS tidak menerima persyaratan yang telah disepakati kedua negara sebuah syarat yang ditegaskan pihak Iran. Sebelum konflik pecah pada Februari, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, namun sebagian besar aktivitas pelayaran terhenti akibat konflik.

Meski intensitas konflik AS-Iran menurun, pelayaran di Selat Hormuz masih berisiko akibat serangkaian serangan terhadap kapal, dan Iran telah memasukkan 45 kapal ke dalam daftar hitam yang diduga terkait aktivitas pemindahan muatan untuk menghindari blokade. Di tengah perkembangan ini, harga minyak turun lebih dari $2 per barel pada Rabu, melanjutkan penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Eskalasi Rusia-Ukraina Alihkan Perhatian Pasar, Brent Kembali ke $89

Penurunan harga minyak akibat kesepakatan Hormuz ternyata tidak bertahan lama. Harga Brent bertahan di atas $89 per barel pada Jumat setelah pulih pada sesi sebelumnya, seiring eskalasi perang Rusia-Ukraina yang mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah ke Eropa Timur. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menyatakan bahwa pembicaraan dengan Ukraina tidak membuahkan hasil dan bahwa Rusia sedang bersiap untuk mengintensifkan perang perkembangan yang kembali menambah ketidakpastian terhadap prospek harga energi global.

Ekonomi AS Tumbuh 1,5% pada Kuartal II, Permintaan Domestik Terkuat dalam 3 Tahun

Ekonomi AS tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II-2026, tidak berubah dari estimasi sebelumnya namun melambat dari 2,1% pada kuartal I. Konsumsi rumah tangga tumbuh 3,4%, meningkat dari estimasi awal 3,2%, sementara investasi tetap nonresidensial mencatat pertumbuhan kuat 8,5%. Indikator permintaan domestik direvisi naik menjadi 4,2% pertumbuhan terkuat dalam lebih dari tiga tahun menunjukkan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama meski belanja pemerintah turun 1% akibat penurunan belanja nonpertahanan.

Di sisi inflasi, PCE inti kuartal II direvisi naik menjadi 3,6% dari 3,4% sebelumnya. Namun, konsumsi riil rumah tangga tidak berubah pada Juli setelah mencatat kenaikan kuat dalam dua bulan sebelumnya mengindikasikan momentum konsumsi mulai melambat di tengah tekanan inflasi yang tetap tinggi.

Bagaimana Kondisi Ekonomi Domestik Indonesia?

Defisit Transaksi Berjalan Melebar ke US$12,49 Miliar, Ruang Pelonggaran BI Menyempit Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan (CAD) mencapai US$12,49 miliar pada kuartal II-2026, setara 3,3% dari PDB pelebaran signifikan yang perlu diwaspadai investor. Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai pelebaran ini memperkuat alasan BI untuk mempertahankan kebijakan berorientasi stabilitas dalam jangka pendek, sekaligus mempersempit ruang bagi pelonggaran moneter yang agresif.

Ke depan, tekanan terhadap CAD berpotensi berlanjut seiring harga minyak dunia yang cenderung tinggi, pertumbuhan impor yang tetap solid, serta penerimaan ekspor yang tertekan akibat perlambatan ekonomi global termasuk melemahnya ekspor komoditas ke China. Di sisi lain, impor Indonesia berpotensi meningkat akibat masuknya produk murah dari China, sementara depresiasi yuan sebagai upaya mendorong ekspor China berpotensi menekan mata uang regional termasuk Rupiah, mengurangi penguatan yang saat ini ditopang pelemahan dolar AS. Pelebaran CAD ini terutama disebabkan anjloknya surplus neraca barang, yang turun menjadi hanya US$1,32 miliar dari US$10,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Destry Damayanti Terpilih sebagai Gubernur BI Periode 2026-2031

Komisi XI DPR RI menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 setelah dinyatakan lolos uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Rabu (26/8/2026). Dengan demikian diharapkan akan mengurangi ketidakpastian mengenai kebijakan moneter BI selanjutnya serta menjaga stabilitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Rampung Desember 2026

DPR memastikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset akan diselesaikan dan disahkan menjadi undang-undang paling lambat pada 15 Desember 2026, sesuai target yang telah disepakati dalam rapat paripurna DPR pada Kamis (27/8/2026). Kepastian tersebut menjadi katalis positif bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam memperkuat tata kelola dan penegakan hukum, sehingga berpotensi meningkatkan kembali kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

BI Perkuat Pengawasan Lalu Lintas Devisa

Bank Indonesia akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dengan memanfaatkan teknologi pengawasan, di tengah semakin kompleksnya transaksi lintas negara dan potensi praktik under-invoicing dalam kegiatan ekspor. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan pengelolaan data serta menjaga kedaulatan ekonomi nasional, dengan BI akan meningkatkan sinergi dan koordinasi bersama kementerian/lembaga terkait.

BEI Evaluasi 14 Indeks Saham, Berlaku 1 September 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi berkala terhadap 14 indeks saham yang mulai berlaku 1 September 2026 dengan periode efektif berbeda sesuai jenis indeks, meliputi ABX, DBX, MBX, IDXVESTA28, ECONOMIC30, SRI-KEHATI, ESGQKEHATI, ESGSKEHATI, Investor33, ISSI, JII, JII70, IDXSHAGROW, dan IDXMESBUMN.

Prabowo Targetkan PLTS 100 GWp dalam 2-3 Tahun

Presiden Prabowo menargetkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dalam dua hingga tiga tahun, diawali dengan 14 PLTS di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau berkapasitas total 5,3 GWp. Program ini membutuhkan investasi sebesar US$73 miliar dan berpotensi menghemat Rp73,9 triliun per tahun dari penggunaan PLTS dan penyimpanan energi berbasis baterai. Jika terealisasi sesuai target, program ini diharapkan memberi dampak positif terhadap sektor infrastruktur, konstruksi, penyerapan tenaga kerja, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Top Reksa Dana of The Week

(28_Aug)_-_TOP_RD_of_The_Week-01.jpg (28_Aug)_-_TOP_RD_of_The_Week-02.jpg

Strategi Investasi Berdasarkan Profil Risiko dan Kondisi Market Terkini

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan pasar dengan sinyal yang masih beragam. Di level global, dinamika geopolitik kembali mendorong kenaikan harga Brent di atas US$89 per barel, sementara pelemahan keyakinan konsumen AS dan inflasi PCE yang masih tinggi membuat The Fed tetap berhati-hati. Di Asia, inflasi bergerak bervariasi, dengan Indonesia relatif terkendali di 2,88%.

Di domestik, pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) menjadi US$12,49 miliar atau 3,3% dari PDB membatasi ruang pelonggaran moneter Bank Indonesia. Namun, kepastian kepemimpinan BI, target penyelesaian RUU Perampasan Aset, serta program jangka panjang seperti PLTS 100 GWp dan peningkatan anggaran KIP Kuliah menjadi sentimen positif. Dengan kondisi tersebut, pendekatan investasi yang selektif tetap diperlukan sesuai profil risiko masing-masing investor.

Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang

Dengan BI Rate yang dipertahankan di level 5,75% karena inflasi domestik masih terkendali di 2,88% dan suku bunga riil tetap positif, reksa dana pasar uang berpotensi tetap diuntungkan karena bunga deposito masih berada di level kompetitif, sementara risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi tetap menjadi keunggulan utama di tengah pelebaran CAD dan ketidakpastian global:

  • Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,38%*
  • I-Money dengan return 1 tahun terakhir: 5,18%*
  • Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,33%*

Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) tetap berada di level yang menarik, didukung sikap Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di tengah inflasi domestik yang terkendali, sementara inflasi PCE AS yang masih tinggi membuat The Fed cenderung berhati-hati menjelang Jackson Hole dan turut menjaga yield global tetap tinggi. Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil selagi level tersebut masih menarik:

  • Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 6,36%*
  • Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund dengan return 1 tahun terakhir: 6,16%*
  • STAR Stable Income Fund Kelas Utama dengan return 1 tahun terakhir: 5,51%*


Reksa dana campuran berbasis sukuk korporasi seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund juga layak dipertimbangkan, dengan return 7,82%* dalam satu tahun terakhir dan volatilitas yang tetap terjaga meski risikonya relatif lebih tinggi.

Profil Risiko Agresif: Reksa Dana Saham dengan Strategi DCA

Pelemahan pasar saham akibat pelebaran CAD dan melemahnya keyakinan konsumen AS dapat menjadi peluang masuk, terlebih dengan katalis positif dari redanya harga minyak pasca kesepakatan Hormuz serta inisiatif jangka panjang seperti program PLTS 100 GWp yang berpotensi mendorong sektor infrastruktur dan energi terbarukan. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) relevan untuk memitigasi risiko timing di tengah volatilitas:

  • Sucorinvest Maxi Fund dengan return 1 tahun terakhir: 41,11%*

*NAB 27 Agustus 2026

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.

Frequently Asked Question (FAQ)

1. Kenapa kesepakatan Hormuz tidak berhasil menekan harga minyak dalam jangka panjang?
Kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz sempat mendorong Brent turun tiga hari beruntun. Namun harga kembali naik ke atas $89 per barel setelah eskalasi perang Rusia-Ukraina mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah ke Eropa Timur, menunjukkan bahwa satu sentimen positif belum tentu bertahan lama di tengah geopolitik yang masih rapuh.
2. Kenapa keyakinan konsumen AS turun ke level terendah sejak awal tahun?
Pelemahan ini dipicu tingginya harga bensin yang rata-rata berada di atas $4 per galon akibat konflik AS-Iran, serta perlambatan perekrutan tenaga kerja. Penjualan eceran AS pada Juli bahkan mencatat penurunan terdalam dalam lebih dari satu tahun.
3. Apa penyebab defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia melebar signifikan?
CAD melebar ke US$12,49 miliar atau 3,3% dari PDB, terutama disebabkan anjloknya surplus neraca barang yang turun menjadi hanya US$1,32 miliar dari US$10,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini juga mempersempit ruang Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran moneter secara agresif.
4. Kenapa inflasi di kawasan Asia bergerak tidak seragam?
Kenaikan harga minyak dunia lebih dari 50% sepanjang tahun berdampak berbeda ke tiap negara. Pakistan mencatat inflasi tertinggi 9,2%, sementara Indonesia relatif terkendali di 2,88% jauh di bawah banyak negara Asia lain sehingga BI masih memiliki ruang mempertahankan suku bunga di 5,75%.
5. Siapa yang terpilih sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031?
Komisi XI DPR RI menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 setelah lolos uji kelayakan dan kepatutan. Aida S. Budiman terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI untuk periode yang sama.
6. Apa isi utama RUU Perampasan Aset yang ditargetkan rampung Desember 2026?
RUU ini mengatur perampasan aset hasil tindak pidana, alat yang digunakan untuk melakukan kejahatan, hingga aset pengganti kerugian, dengan dua mekanisme: in personam berdasarkan putusan pidana, dan in rem tanpa memerlukan putusan pidana terhadap pelaku.
7. Mengapa Wall Street menguat di tengah sentimen global yang beragam?
Penguatan Wall Street didorong kinerja kuartalan Nvidia yang membangkitkan kembali antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan, meski pelaku pasar masih menantikan pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk kejelasan arah suku bunga.
8. Apa program PLTS 100 GWp yang ditargetkan Presiden Prabowo?
Program ini menargetkan kapasitas 100 GWp dalam dua hingga tiga tahun, diawali 14 PLTS berkapasitas 5,3 GWp dengan investasi US$73 miliar. Program ini berpotensi menghemat Rp73,9 triliun per tahun dan mendukung sektor infrastruktur serta energi terbarukan.
9. Reksa dana apa yang cocok di tengah kondisi pasar campuran seperti saat ini?
Tergantung profil risiko investor. Investor konservatif dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang, investor moderat dapat melirik reksa dana pendapatan tetap dan campuran, sementara investor agresif dapat memanfaatkan koreksi pasar saham melalui strategi Dollar Cost Averaging (DCA).
10. Jadi, bagaimana investor sebaiknya menyikapi kombinasi sinyal global dan domestik saat ini?
Investor perlu mendekati pasar secara selektif, menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing, serta terus memantau perkembangan harga minyak, kebijakan The Fed, arah CAD Indonesia, dan kepastian kelembagaan seperti kepemimpinan BI sebagai indikator penting ke depan.

Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)

Mulai Persiapkan Dana Pendidikan Bersama SayaKaya

Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.

Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!

https://sayakaya.go.link/download-disini

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Education 27 Agustus 2026

Bagaimana Strategi Menyiapkan Dana Darurat dengan Gaji UMR?

Punya gaji UMR bukan berarti sulit memiliki dana darurat.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Kulik Reksa Dana 26 Agustus 2026

Bagaimana Cara Mengelola Dana Liburan dan Dana Darurat di 2026 dengan Pinnacle Money Market Fund (PMMF)?

1. Profil risiko rendah, likuiditas tinggi PMMF berada di risk level 1/5 dengan alokasi 69,68% cash/money market dan 30,32% fixed income tenor <1 tahun (AUM Rp1.198,07 M, NAV/Unit Rp1.685,42 per 31 Juli 2026), dikelola Pinnacle Investment (berizin OJK sejak 2015) dengan kustodian BCA.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Gaya Hidup 24 Agustus 2026

Berapa Budget Liburan ke Destinasi Top Indonesia dan Bagaimana Merencanakan Budgetingnya?

Liburan ke destinasi impian di Indonesia tidak harus selalu menunggu sampai punya uang dalam jumlah besar. Dengan perencanaan yang tepat, biaya perjalanan bisa dipersiapkan sedikit demi sedikit melalui tabungan atau investasi sesuai profil risiko dan jangka waktu kebutuhan.

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.