Status Emerging Market Bertahan dan Pasar Tenaga Kerja AS Melambat, Apakah Jadi Katalis Positif bagi IHSG? (Weekly Newsletter 9 Oktober 2026)

9 Oktober 2026 Ditulis oleh Hardy Tandoko
Featured

Key Takeaways

1. Pasar tenaga kerja AS melambat, tetapi The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga sekali lagi. Nonfarm payrolls September hanya bertambah 29.000 pekerjaan dan pengangguran naik ke 4,2%, sehingga pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober, meski FOMC minutes masih mengindikasikan satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun.

2. FTSE Russell mempertahankan status emerging market Indonesia. Penegasan ini membantu meredakan tekanan jual dan mendorong dana global kembali masuk secara bertahap, meski IHSG masih tercatat turun sekitar 30% sepanjang 2026.

3. Sentimen domestik dan global lainnya masih beragam. Pemerintah menyiapkan stimulus kuartal IV 2026 senilai Rp31 triliun, cadangan devisa turun tipis ke US$146,3 miliar, dan harga minyak Brent menguat 4% ke US$104 per barel.

FTSE Russell kembali menegaskan status pasar saham Indonesia sebagai emerging market dalam tinjauan tahunan klasifikasi negara, memberikan sinyal positif setelah sebelumnya muncul kekhawatiran soal transparansi dan integritas pasar modal domestik. Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan signifikan pada September 2026, dengan penambahan lapangan kerja yang jauh di bawah ekspektasi dan pertumbuhan upah yang semakin moderat kondisi yang turut memengaruhi pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Kedua perkembangan ini menjadi sorotan utama pekan ini karena berdampak langsung terhadap sentimen investor, baik di pasar global maupun domestik. Pelemahan data ketenagakerjaan AS membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober, meski risalah rapat The Fed (FOMC minutes) menunjukkan pejabat bank sentral masih mempertimbangkan satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Sementara itu, penegasan status emerging market Indonesia turut membantu meredakan tekanan jual di pasar saham domestik setelah mengalami pelemahan tajam sepanjang 2026. Kombinasi kedua sentimen ini memunculkan pertanyaan: apakah keduanya cukup kuat menjadi katalis positif bagi IHSG ke depan?

Artikel ini merangkum kedua perkembangan tersebut secara ringkas, mengulas potensinya sebagai katalis bagi pergerakan IHSG, beserta sejumlah perkembangan ekonomi domestik dan global lainnya yang relevan bagi investor.

Bagaimana Perlambatan Pasar Tenaga Kerja AS Memengaruhi Arah Suku Bunga The Fed?

Nonfarm Payrolls AS Jauh di Bawah Ekspektasi, Pengangguran Naik ke 4,2%

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), nonfarm payrolls AS pada September 2026 hanya bertambah 29.000 pekerjaan, disertai revisi turun terhadap data dua bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%, sebagian dipengaruhi bertambahnya jumlah angkatan kerja. Pertumbuhan upah rata-rata per jam hanya 0,1% secara bulanan dan 3% secara tahunan laju tahunan paling lambat sejak 2021. Meski demikian, jumlah PHK yang relatif rendah dan tingkat partisipasi angkatan kerja yang naik ke 61,8% (tertinggi dalam empat bulan) menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil, meski rendahnya perekrutan membuat pencari kerja semakin sulit memperoleh pekerjaan baru. Setelah laporan ini dirilis, pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, mendorong penguatan indeks S&P 500, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta pelemahan dolar AS.

FOMC Minutes: The Fed Masih Berpotensi Menaikkan Suku Bunga Lagi Sebelum Akhir Tahun

Meski data ketenagakerjaan melemah, risalah rapat FOMC menunjukkan para pejabat The Fed memperkirakan masih akan menaikkan suku bunga sekali lagi sebelum akhir tahun, guna meredam inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Kondisi ini mencerminkan dilema The Fed antara menjaga pasar tenaga kerja dan mengendalikan inflasi yang masih persisten.

Bagaimana Kondisi Sektor Jasa AS di Tengah Pelemahan Pasar Tenaga Kerja?

Indeks ISM Jasa Masih Ekspansi, Namun Tekanan Biaya Meningkat

Indeks jasa ISM turun 0,5 poin menjadi 54,9 pada September 2026 masih di atas 50 sehingga menandakan ekspansi, didukung belanja konsumen yang kuat dan investasi bisnis yang solid. Namun, indikator harga yang dibayarkan perusahaan naik ke 74, level tertinggi sejak Juli 2022, akibat kenaikan biaya bahan bakar pascakonflik Iran dan tekanan tarif dagang. Waktu pengiriman pemasok juga mencapai level tertinggi sejak Juni, menunjukkan gangguan rantai pasokan yang makin besar. Di sisi lain, indeks ketenagakerjaan ISM naik ke 50,1, masuk zona ekspansi untuk pertama kalinya sejak Juni, dengan 13 dari 17 industri jasa mencatat pertumbuhan pada September.

Bagaimana FTSE Russell Menilai Status Emerging Market Indonesia?

FTSE Russell Pertahankan Status Indonesia di Tengah Reformasi Pasar Modal

FTSE Russell menegaskan kembali status pasar saham Indonesia sebagai emerging market dalam tinjauan tahunan klasifikasi negara, setelah sebelumnya muncul kekhawatiran soal potensi penurunan status akibat persoalan transparansi dan integritas pasar modal. Sejumlah reformasi yang telah diterapkan otoritas Indonesia mencakup:

  • Peningkatan keterbukaan informasi kepada pemegang saham
  • Perluasan kategori klasifikasi investor
  • Penetapan syarat minimum free float menjadi 15%
  • Penguatan perangkat pengawasan pasar

FTSE Russell menyatakan akan terus memantau efektivitas reformasi tersebut ke depan.

Bagaimana Dampaknya terhadap Kinerja IHSG?

Penegasan status emerging market ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor yang sebelumnya menekan aset domestik, dengan dana global yang mulai kembali masuk secara bertahap setelah aksi jual besar-besaran pada awal 2026. Meski demikian, kinerja IHSG masih menghadapi tekanan indeks acuan tercatat turun sekitar 30% sepanjang 2026, menjadi salah satu pasar dengan kinerja terlemah dibandingkan pasar global lainnya. Sebelumnya pada Agustus 2026, FTSE Russell juga memutuskan menunda perubahan tertentu terhadap indeks saham Indonesia setidaknya hingga Desember, guna memberi waktu evaluasi reformasi yang telah diterapkan. Secara teknikal per 8 Oktober 2026, IHSG masih bertahan di atas level MA5 dan MA10, dengan potensi menguji level 6.200-6.230.

Apa Perkembangan Penting Lainnya yang Perlu Diperhatikan Investor?

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Kuartal IV 2026 Senilai Rp31 Triliun

Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi kuartal IV 2026 dengan anggaran sekitar Rp31 triliun, difokuskan pada Bantuan Subsidi Upah (BSU) bagi sekitar 13,3 juta pekerja masing-masing memperoleh Rp300.000 per bulan selama tiga bulan atau total Rp900.000 per pekerja, dengan anggaran hampir Rp12 triliun serta bantuan pangan berupa 10 kilogram beras per bulan selama Oktober-Desember 2026 bagi 33.244.408 keluarga penerima manfaat kelompok desil 1-4, dengan anggaran sekitar Rp17,5 triliun. Pemerintah juga menyiapkan program pembukaan rekening bagi warga negara berusia di atas 17 tahun dari kelompok desil 1-4, yang masih dalam proses verifikasi data. Insentif diskon tiket pesawat belum termasuk dalam paket stimulus ini.

Cadangan Devisa RI Turun Tipis ke US$146,3 Miliar

Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$146,3 miliar pada September 2026, dari US$146,5 miliar pada Agustus, dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia. Cadangan devisa ini masih mampu membiayai 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Nasdaq Melemah Tajam, Brent Menguat 4% ke US$104

Wall Street ditutup mixed pada Kamis (8/10). Nasdaq Composite melemah tajam didorong koreksi saham-saham teknologi setelah laporan media menyebutkan pendapatan tahunan OpenAI lebih rendah dari indikasi sebelumnya, sementara kenaikan harga minyak turut menjadi faktor negatif. Namun, penurunan yield US Treasury menjadi katalis positif bagi pasar. Harga minyak Brent ditutup menguat 4% di level US$104 per barel (8/10), seiring meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi lepas pantai AS di Teluk Meksiko.

Top Reksa Dana of The Month

(02 Okt) - TOP RD of The Week-01 (1).jpg

(02 Okt) - TOP RD of The Week-02 (1).jpg

Bagaimana Strategi Investasi yang Tepat di Tengah Kondisi Ini?

Di tengah potensi satu kali kenaikan suku bunga The Fed lagi sebelum akhir tahun, perlambatan pasar tenaga kerja AS, tekanan teknikal IHSG menuju level 6.000, serta harga minyak yang kembali menguat ke US$104 per barel, pendekatan investasi yang selektif sesuai profil risiko menjadi semakin penting. Status emerging market yang bertahan memberi dukungan sentimen bagi pasar domestik, namun belum menghilangkan volatilitas jangka pendek.

Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang

Dengan IHSG yang masih rawan menguji level kritikal 6.000 dan arah suku bunga The Fed yang belum sepenuhnya pasti, risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi pada reksa dana pasar uang (RDPU) menjadi keunggulan utama bagi investor yang mengutamakan keamanan modal di tengah ketidakpastian pasar saat ini. Beberapa reksa dana pasar uang yang bisa dipertimbangkan:

  1. Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,36%*
  2. I-Money dengan return 1 tahun terakhir: 5,15%*
  3. Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,29%*

Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran

Penurunan yield US Treasury di tengah data tenaga kerja AS yang melambat membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil pada instrumen pendapatan tetap, sebelum arah kebijakan suku bunga berubah di kemudian hari. Meski The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga sekali lagi, melemahnya data ketenagakerjaan membuat ruang kenaikan lanjutan semakin terbatas. Beberapa reksa dana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan:

  1. Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,37%*
  2. Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 5,22%*
  3. Sucorinvest Stable Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,91%*

Bagi investor yang siap menerima risiko sedikit lebih tinggi demi potensi imbal hasil lebih besar, reksa dana campuran berbasis sukuk korporasi seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund juga layak dipertimbangkan, dengan return 6,55%* dalam satu tahun terakhir dan volatilitas yang relatif masih terjaga dibanding reksa dana campuran berbasis ekuitas murni cocok bagi investor yang ingin memanfaatkan fundamental domestik yang relatif lebih terjaga tanpa mengambil risiko sebesar reksa dana saham.

*NAB 8 Oktober 2026

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.

Frequently Asked Question (FAQ)

1. Apa arti penegasan status emerging market Indonesia oleh FTSE Russell?
FTSE Russell mempertahankan klasifikasi pasar saham Indonesia sebagai emerging market dalam tinjauan tahunannya, setelah sebelumnya muncul kekhawatiran soal potensi penurunan status akibat persoalan transparansi dan integritas pasar modal. Keputusan ini didukung sejumlah reformasi, seperti peningkatan keterbukaan informasi, perluasan kategori klasifikasi investor, syarat minimum free float 15%, dan penguatan pengawasan pasar. FTSE Russell akan terus memantau efektivitas reformasi tersebut.
2. Apakah status emerging market yang bertahan langsung mendorong IHSG naik?
Belum sepenuhnya. Penegasan status ini membantu meredakan kekhawatiran investor dan mendorong dana global kembali masuk secara bertahap, tetapi IHSG masih tercatat turun sekitar 30% sepanjang 2026. Secara teknikal per 8 Oktober 2026, IHSG bertahan di atas MA5 dan MA10 dengan potensi menguji level 6.200-6.230, namun volatilitas jangka pendek masih membayangi.
3. Seberapa lemah data pasar tenaga kerja AS pada September 2026?
Nonfarm payrolls hanya bertambah 29.000 pekerjaan, disertai revisi turun data dua bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran naik ke 4,2% dan pertumbuhan upah tahunan hanya 3%, laju paling lambat sejak 2021. Meski begitu, PHK yang relatif rendah dan partisipasi angkatan kerja yang naik ke 61,8% menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil.
4. Apakah The Fed masih akan menaikkan suku bunga?
Setelah data ketenagakerjaan dirilis, pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober. Namun, FOMC minutes menunjukkan pejabat The Fed masih memperkirakan satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun untuk meredam inflasi yang sudah lebih dari lima tahun berada di atas target, mencerminkan dilema antara menjaga pasar tenaga kerja dan mengendalikan inflasi.
5. Apa isi paket stimulus ekonomi kuartal IV 2026?
Pemerintah menyiapkan stimulus sekitar Rp31 triliun, terdiri dari Bantuan Subsidi Upah sebesar Rp300.000 per bulan selama tiga bulan bagi sekitar 13,3 juta pekerja, serta bantuan pangan 10 kilogram beras per bulan selama Oktober-Desember 2026 bagi 33.244.408 keluarga penerima manfaat kelompok desil 1-4. Insentif diskon tiket pesawat belum termasuk dalam paket ini.
6. Reksa dana apa yang cocok untuk investor konservatif di tengah kondisi ini?
Dengan IHSG yang masih rawan menguji level 6.000 dan arah suku bunga The Fed yang belum pasti, reksa dana pasar uang menawarkan risiko relatif rendah dan likuiditas tinggi. Beberapa pilihannya adalah Pinnacle Money Market Fund (5,36%), I-Money (5,15%), dan Sucorinvest Money Market Fund (4,29%), berdasarkan return 1 tahun terakhir per NAB 8 Oktober 2026.
7. Bagaimana dengan investor berprofil risiko moderat?
Penurunan yield US Treasury membuka peluang mengunci imbal hasil lewat reksa dana pendapatan tetap, seperti Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund (5,37%), Danamas Stabil (5,22%), dan Sucorinvest Stable Fund (4,91%). Bagi yang siap menerima risiko sedikit lebih tinggi, Sucorinvest Sharia Balanced Fund mencatat return 6,55% dalam satu tahun terakhir, per NAB 8 Oktober 2026.

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Education 8 Oktober 2026

Kalau Inflasi Naik Terus, Berapa Harga Barang Pokok di 2045?

Kalau harga barang terus naik, berapa uang yang kita butuhkan untuk membeli kebutuhan yang sama di tahun 2045?

Baca Selengkapnya
thumbnail
Kulik Reksa Dana 7 Oktober 2026

Investasi Reksa Dana Dapat Dividen Sekaligus Asuransi Jiwa? Kenalan dengan TFIP

Trimegah Fixed Income Plan (TFIP) adalah reksa dana pendapatan tetap yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management sejak diluncurkan pada 23 Mei 2019. Reksa dana ini menempatkan sebagian besar portofolionya pada obligasi domestik, dengan tujuan memberikan tingkat pengembalian yang kompetitif dan stabil bagi pemegang unit penyertaan.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Education 5 Oktober 2026

Kamu Juga Bisa Upgrade Finansialmu: Bagaimana Strategi Mengelola Keuangan Sampai Mulai Bisa Investasi Reksa Dana?

Merasa gaji selalu habis sebelum akhir bulan, padahal ingin hidup lebih tenang secara finansial?

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.