The Fed Condong Hawkish dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat ke 68%, Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Key Takeaways
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed melonjak ke 68%, tapi Wall Street tetap sanggup rally. Pidato hawkish Kevin Warsh di Jackson Hole mendorong pasar memperhitungkan kenaikan 25 bps pada September, namun indeks saham AS justru menguat signifikan begitu yield obligasi mereda sinyal bahwa sentimen pasar bisa berbalik cepat tergantung data yang keluar berikutnya.
- Inflasi Indonesia melonjak dan manufaktur kembali kontraksi, tapi kepemimpinan BI kini sudah pasti. Inflasi Agustus naik ke 3,19% dan PMI turun ke 49,8 menjadi sinyal yang perlu dicermati, namun pelantikan resmi Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031 serta surplus neraca dagang yang mengejutkan memberi sedikit ruang optimisme di tengah tekanan.
- Tekanan di pasar tenaga kerja terjadi di dua sisi, tapi kebijakan mulai merespons. Baik AS (pertumbuhan payrolls swasta melambat) maupun Indonesia (PHK terus meningkat) sama-sama menghadapi pelemahan pasar kerja, namun DPR RI mulai bergerak lewat RUU Perlindungan Ketenagakerjaan, sementara potensi efisiensi anggaran MBG membuka ruang fiskal untuk mendukung pertumbuhan ke depan.
Pasar keuangan global bergejolak menyusul pidato perdana Gubernur The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada 28 Agustus 2026, yang menegaskan bahwa mengendalikan inflasi tetap menjadi prioritas utama bank sentral AS. Meski Warsh tidak secara eksplisit mendukung kenaikan suku bunga, pernyataannya langsung mendorong ekspektasi pasar: probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15–16 September melonjak dari sekitar 40% menjadi 57% dalam sepekan, dan terus menguat hingga sekitar 68% menyusul data pasar tenaga kerja AS yang meski melambat namun masih dinilai tangguh.
Sikap hawkish ini langsung terasa di pasar: yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023, dolar AS menguat, harga emas turun tajam, dan Wall Street melemah. Kondisi ini mendorong investor global mulai masuk ke mode risk-off, yang berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia menuju aset yang dianggap lebih aman seperti US Treasury.
Di dalam negeri, sejumlah perkembangan penting turut mewarnai pekan ini: Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031, inflasi domestik melonjak ke 3,19% berbalik dari deflasi bulan sebelumnya, dan PMI manufaktur kembali memasuki zona kontraksi. Artikel ini merangkum seluruh perkembangan tersebut secara lengkap.
Bagaimana Sikap The Fed Terhadap Inflasi dan Suku Bunga Saat Ini?
Gubernur The Fed Kevin Warsh Tegaskan Inflasi Jadi Prioritas Utama
Dalam pidato perdananya di Jackson Hole pada Jumat (28/8), Gubernur The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa prioritas utama The Fed saat ini adalah mengendalikan inflasi, dengan menambahkan bahwa bank sentral harus yakin inflasi benar-benar bergerak menuju target 2%. Warsh menyebut inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) acuan inflasi utama The Fed masih berada di level 3,7% pada Juli 2026, jauh di atas target. Ia menilai perbaikan data inflasi dalam dua tahun terakhir tergolong moderat, dan data terbaru belum menunjukkan perbaikan tren yang berarti, sementara pasar tenaga kerja dinilai sudah konsisten dengan kondisi full employment di tingkat pengangguran 4,1%.
Probabilitas Kenaikan Suku Bunga September Melonjak ke 68%
Meski Warsh tetap menolak memberikan forward guidance dan tidak menyatakan dukungan eksplisit terhadap kenaikan suku bunga, pernyataannya cukup untuk mendorong pasar menaikkan ekspektasi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September naik menjadi 57% pada Jumat (28/8), dari sekitar 40% seminggu sebelumnya, dan terus menguat menjadi sekitar 68% menyusul data ketenagakerjaan AS yang melambat namun secara keseluruhan masih tangguh.
Reaksi pasar pasca pernyataan Warsh cukup signifikan: yield obligasi AS tenor 10 tahun naik sekitar 4 basis poin ke 4,72%, indeks dolar AS (DXY) naik 0,6% ke 99,7, harga emas turun 3,1% ke US$4.455 per ons, sementara S&P 500 turun 0,25% dan Nasdaq turun 0,52%.
Tekanan Jual Obligasi Pemerintah AS Meningkat, Yield Tertinggi Sejak 2023 Wall Street ditutup melemah pada Selasa (1/9), dipicu kenaikan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Tekanan jual terhadap obligasi pemerintah AS dan pasar obligasi utama lainnya semakin intensif pada hari yang sama, dipicu meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi dan utang fiskal mendorong yield obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023.
Bagaimana Kondisi Pasar Tenaga Kerja AS Saat Ini?
Pertumbuhan Lapangan Kerja Swasta AS Kembali Melambat
Berdasarkan laporan ADP National Employment Report, perusahaan swasta AS hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, turun dari 46.000 pada Juli dan jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 48.000. Sektor pendidikan dan layanan kesehatan menjadi penopang utama dengan tambahan 45.000 pekerjaan, diikuti rekreasi dan perhotelan (16.000), konstruksi (12.000), dan aktivitas keuangan (6.000). Sebaliknya, sektor manufaktur memangkas 17.000 pekerjaan dan jasa profesional/bisnis kehilangan 16.000 pekerjaan.
Meski data ADP dinilai kurang akurat dalam memprediksi payrolls swasta versi Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), ekonom memperkirakan payrolls swasta BLS meningkat 45.000 dan total nonfarm payrolls bertambah 56.000 pekerjaan pada Agustus. Data BLS sebelumnya menunjukkan rasio 1,05 lowongan pekerjaan untuk setiap penganggur pada Juli, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski momentum pertumbuhannya melambat dari kondisi kuat pada musim semi kondisi yang kini disebut sebagai "slow-hire, slow-fire", di mana perusahaan memperlambat perekrutan sekaligus menahan pemutusan hubungan kerja.
Bagaimana Dampaknya bagi Pasar Modal Global dan Indonesia?
Investor Global Mulai Masuk Mode Risk-Off
Tren kenaikan yield obligasi pemerintah negara-negara besar, seiring antisipasi kenaikan suku bunga di tengah potensi inflasi yang kembali meningkat, membuat investor global cenderung memasuki mode risk-off mengalihkan aset ke alternatif investasi yang dianggap lebih rendah risiko. Kondisi ini berpotensi mendorong investor keluar dari pasar negara berkembang (emerging market) dan lebih memilih instrumen seperti US Treasury yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko lebih rendah. Bagi Indonesia, dinamika ini berpotensi berdampak pada pelemahan Rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya biaya modal bagi perusahaan domestik.
Apa Perkembangan Penting dari Ekonomi Domestik Indonesia?
Destry Damayanti Resmi Dilantik sebagai Gubernur BI 2026-2031
Destry Damayanti resmi dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 di Mahkamah Agung pada Rabu (2/9/2026), menggantikan Perry Warjiyo yang telah menyelesaikan masa jabatannya. Bersamaan dengan itu, Mahkamah Agung juga melantik Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI, setelah ketiganya memperoleh persetujuan DPR RI melalui uji kelayakan dan kepatutan.
Destry menegaskan menjaga stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama pada awal masa jabatannya, guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi dalam kondisi "higher for longer". Meski berfokus pada stabilitas, BI akan tetap mengoptimalkan bauran kebijakan secara seimbang antara stabilitas dan pertumbuhan, termasuk melalui instrumen makroprudensial yang memberikan insentif kepada perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas, selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Inflasi Indonesia Melonjak ke 3,19%, Berbalik dari Deflasi Juli
Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19% secara tahunan, dari 2,88% pada Juli. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21%, berbalik dari deflasi 0,14% pada bulan sebelumnya. Pejabat Gubernur Sementara BI saat itu, Destry Damayanti, menyebut kenaikan ini terutama dipengaruhi kelompok pangan bergejolak (volatile food), yang mencapai 4,06% secara tahunan meningkat tajam dari 2,52% pada Juli. Inflasi inti sendiri masih relatif stabil meski turut naik ke sekitar 2,92% dari 2,76% pada Juli, yang menurut Destry justru menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Berdasarkan data BPS, tiga kelompok pengeluaran mendorong inflasi Agustus: kelompok makanan, minuman, dan tembakau (inflasi 3,86%, andil 1,13%) dengan kontribusi dari daging ayam, ikan segar, minyak goreng, beras, dan cabai; kelompok perawatan pribadi (inflasi tertinggi 9,25%, andil 0,63%) yang didorong kenaikan harga emas dan perhiasan; serta kelompok transportasi (inflasi 4,79%, andil 0,58%) akibat kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, dan kendaraan bermotor.
PMI Manufaktur Kembali Kontraksi ke 49,8
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada di zona kontraksi pada Agustus 2026, dengan PMI turun tipis menjadi 49,8 dari 50,2 pada Juli. Meski berada di bawah level 50, S&P Global menilai kondisi bisnis Indonesia pada kuartal III-2026 secara umum masih stabil. Penurunan ini terutama dipengaruhi melemahnya produksi dan penciptaan lapangan kerja, akibat persaingan yang semakin ketat, permintaan yang melemah, dan tingginya biaya bahan baku kondisi yang mendorong sejumlah perusahaan memangkas gaji dan mengurangi jumlah karyawan. Meski begitu, tekanan inflasi dinilai semakin mereda dan kepercayaan bisnis mulai membaik, dengan pelaku industri tetap optimistis terhadap peningkatan produksi dalam 12 bulan mendatang.
PHK Terus Meningkat, DPR Sepakati RUU Perlindungan Ketenagakerjaan
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 43.805 orang hingga Juli 2026, terdiri dari 32.389 pekerja pada semester I dan tambahan 11.416 pekerja pada Juli. Jawa Barat menjadi wilayah dengan PHK terbanyak (6.727 pekerja), disusul Banten, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Kalimantan Selatan.
Di tengah tren ini, DPR RI menyepakati Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai usul inisiatif DPR dalam rapat paripurna 27 Agustus 2026, sebagai tindak lanjut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023 terkait pengujian UU Cipta Kerja. Baleg DPR menyepakati 16 perubahan penting, termasuk pengaturan sanksi administratif, perluasan kesempatan kerja, serta kepastian penyelesaian perselisihan hubungan industrial di Pengadilan Hubungan Industrial apabila musyawarah gagal langkah yang turut didukung Apindo.
BI Ubah Skema Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)
Bank Indonesia memperketat sekaligus mengubah skema Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) mulai 1 September 2026, bertujuan mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan dan mendorong pendalaman pasar uang. Dalam skema sebelumnya, seluruh insentif KLM sebesar 5,5% diarahkan untuk pembiayaan. Melalui skema baru, insentif terdiri dari dua komponen: 4% sebagai insentif pembiayaan bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor produktif, serta tambahan maksimal 2% melalui komponen pendalaman pasar uang berdasarkan rasio kepemilikan surat berharga terhadap total pendanaan bank. Dengan perubahan ini, total insentif KLM meningkat dari maksimal 5,5% menjadi 6%. Hingga saat ini, realisasi KLM telah mencapai sekitar Rp447 triliun atau setara 5% dari total kredit.
Pemerintah Longgarkan Ketentuan DHE SDA Sektor Pertambangan
Pemerintah melonggarkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) bagi sektor pertambangan melalui penyempurnaan implementasi Pasal 18A PP Nomor 21 Tahun 2026, berlaku untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor mulai 1 September 2026. Berdasarkan ketentuan baru, DHE SDA dari sektor pertambangan yang memenuhi kriteria wajib ditempatkan paling sedikit 30% selama minimal tiga bulan di Rekening Khusus DHE SDA berbeda dari aturan sebelumnya yang mewajibkan repatriasi 100%. Penempatan maupun penukaran ke rupiah dapat dilakukan melalui bank devisa BUMN maupun non-BUMN.
Neraca Dagang Catat Surplus Tak Terduga US$0,13 Miliar
Di luar dugaan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$0,13 miliar pada Juli 2026, setelah selama dua bulan berturut-turut mencatatkan defisit sebuah perkembangan positif meski PMI manufaktur pada periode yang sama justru melambat.
Top Reksa Dana of The Week

Strategi Investasi Berdasarkan Profil Risiko dan Kondisi Market Terkini
Rangkaian perkembangan di atas menggambarkan sikap The Fed yang semakin hawkish. Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole menegaskan inflasi sebagai prioritas utama, mendorong probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September melonjak hingga sekitar 68%. Data ketenagakerjaan AS yang melambat namun masih tergolong tangguh, ditambah harga minyak yang bertahan di level tinggi, turut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut. Kondisi ini mendorong investor global memasuki mode risk-off, berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia menuju aset yang dianggap lebih aman seperti US Treasury.
Di sisi domestik, gambarannya juga bercampur. Inflasi Indonesia melonjak ke 3,19% pada Agustus, berbalik dari deflasi bulan sebelumnya akibat kenaikan harga pangan bergejolak, sementara PMI manufaktur kembali memasuki zona kontraksi di 49,8. Namun demikian, kepastian kepemimpinan BI dengan resminya pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031, potensi efisiensi anggaran MBG yang dapat dialihkan untuk mendukung pertumbuhan, serta surplus neraca dagang yang mengejutkan menjadi sentimen penyeimbang. Dengan kondisi tersebut, pendekatan investasi yang selektif tetap diperlukan sesuai profil risiko masing-masing investor.
Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang
Dengan BI Rate yang dipertahankan di level 5,75% di tengah inflasi domestik yang naik ke 3,19% namun masih berada dalam rentang sasaran BI, reksa dana pasar uang berpotensi tetap diuntungkan karena bunga deposito masih berada di level kompetitif, sementara risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi tetap menjadi keunggulan utama di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian global:
- Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,38%*
- I-Money dengan return 1 tahun terakhir: 5,16%*
- Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,34%*
Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran
Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) tetap berada di level yang menarik, didukung sikap Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga meski inflasi domestik mulai naik, sementara sikap hawkish The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga hingga 68% turut menjaga yield global tetap tinggi. Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil selagi level tersebut masih menarik:
- Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 6,34%*
- Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund dengan return 1 tahun terakhir: 6,03%*
- STAR Stable Income Fund Kelas Utama dengan return 1 tahun terakhir: 5,46%*
Reksa dana campuran berbasis sukuk korporasi seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund juga layak dipertimbangkan, dengan return 7,66%* dalam satu tahun terakhir dan volatilitas yang tetap terjaga meski risikonya relatif lebih tinggi.
Profil Risiko Agresif: Reksa Dana Saham dengan Strategi DCA
Pelemahan pasar saham akibat sikap hawkish The Fed dan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menjadi peluang masuk, terlebih dengan katalis positif domestik seperti kepastian kepemimpinan BI pasca pelantikan Destry Damayanti serta surplus neraca dagang yang mengejutkan di tengah tekanan global. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) relevan untuk memitigasi risiko timing di tengah volatilitas:
- Sucorinvest Maxi Fund dengan return 1 tahun terakhir: 41,18%*
- Sucorinvest Sharia Equity Fund dengan return 1 tahun terakhir: 19,3%*
- Sucorinvest Sustainability Equity Fund dengan return 1 tahun terakhir: 16,78%*
*NAB 3 September 2026
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.
Frequently Asked Question (FAQ)
Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)
Mulai Persiapkan Merdeka Finansial Bersama SayaKaya
Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.
Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!
https://sayakaya.go.link/download-disini
Lihat Blog Lainnya
Apa Itu Switching Reksa Dana dan Bagaimana Cara Melakukannya?
Dalam berinvestasi reksa dana, ada kalanya kamu ingin mengubah pilihan produk tanpa harus mencairkan investasi terlebih dahulu ke rekening bank. Salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah menggunakan fitur switching reksa dana.
Baca Selengkapnya
Kenapa Sucorinvest Flexi Fund Layak Diandalkan untuk Jangka Panjang? Simak Rekam Jejak dan Penghargaan Industrinya
Sucorinvest Flexi Fund (SFF) layak dipertimbangkan karena dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management, manajer investasi berizin OJK yang telah beroperasi sejak 1997 dengan dana kelolaan (AUM) melampaui Rp 43,07 triliun per Juli 2026, serta memiliki rekam jejak hampir dua dekade diluncurkan pada 6 Desember 2006 dengan return kumulatif sejak peluncuran mencapai 535,16%. Produk ini juga telah meraih sejumlah penghargaan dari lembaga independen seperti Bareksa-Kontan Fund Awards dan Majalah Investor–Infovesta Best Mutual Funds Awards, serta menawarkan diversifikasi otomatis lintas efek ekuitas, obligasi, dan instrumen pasar uang dalam satu produk.
Baca Selengkapnya
Raih Peluang Penghasilan Tambahan dengan Ajak Teman Investasi Reksa Dana di SayaKaya
Investasi bisa menjadi lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat. Selain bisa saling berbagi pengalaman dan belajar mengenai investasi, kamu juga bisa mendapatkan benefit tambahan melalui Program Undang Teman.
Baca Selengkapnya
